Minggu, 26 April 2009

Kisah Kasih yang Terpendam.

Huh…
Sudah lama juga ya… Aku tidak buka Blog ini…, padahal… beberapa Ikhwan dan Akhwat selalu bertanya… mana nih kok isi Blognya itu2 melulu… gak pernah di Up Date… Tapi beneran deh… kenapa hari ini aku teringat sama kisah masa lalu ku…, dan lantas aku ada ingin mendokumentasikan dalam Blog. Dan begini ceritanya saudara2… Hari melelahkan di siang saat itu, karena aku baru saja pulang kerja. Saking lelahnya aku saat itu, aku matikan saja Hp ku dengan maksud agar tidak ada yang mengganggu waktu istirahatku, di tambah lagi Hp ku benar-benar Low Bate, segera saja ku raih Cas Hp dan ku Cas Hp ku dan ku tinggal tidur siang.
Tepat waktu Ashar aku terbangun dan segera aku bergegas ambil air Wudhu untuk segera ke Masjid yang kebetulan Rumahku berada di atas Masjid.
Setelah Shalat aku Tilwah terlebih dahu seperti biasa aktifitasku setelah melaksanakan Ibadah Shalat. Kuhidupkan Hp ku dan tak lama berbunyi lah Hp ku tut tut tut….. berarti tanda sms masuk ke Hp ku dan alangkah terkejutnya aku ketika aku membaca “Hai kak Yudhis…… Apa kabar? Masih ingat dengan dengan kenangan kita berdua waktu di Pramuka n PMR di MTsN?” begitulah isi sms tersebut.
Lantas ku balas si yang mengirim sms tersebut “siapa ya? Teman ku di Pramuka MTsN itu banyak…”
Dan beberapa menit ku terima balasan yang mengirim sms tadi “masa kak Yudhis lupa sama aku… Aku ini Nia… Wah ternyata Kak Yudhis yang aku kenal dulu kini telah berubah ya? Tentu bsnysk Cewek yang naksir…” dalam hati ku katakana gak tahu apa nih Orang bahwa Aku sekarang telah jadi Ikhwan… Lantas aku pura-pura bego saja dan membalas sms itu, padahal aku sudah melupakan dia sejak tamat MTsN dulu….
Tapi jujur, aku emang kenal sama dia n dia emang dekat denganku waktu dulu…
Wah aku jadi teringat kisah lama nheh, sebuah kisah ketika aku masih duduk di bangku MTsN dulu alis ketika masih ABG, atau dalam istilahnya Anak Baru Gede (bukan akhwat berjilbab gede) seperti yang di bicarakan orang di luar ketikan menyebut Perempuan yang tergabung dalam Jama’ah Ikhwanul Muslimin atau HT.
Nah singkat cerita nih… Dahulu kala emang aku Ikut Ekstrkurikuler Pramuka waktu di MTsN Tanjungpinang. N di Pramuka itu aku bertemanlah dengan seorang Siswi yang bernama Nia, jujur ketika pertama kali aku jumpa dengannya aku emang sempat mengungkapkan Isi hatiku dengannya melalui sebuah Surat yang Aku sampaikan sendiri kepadanya, bahwa aku mencintai dirinya.
Tapi malang nasibku, ternyatadia menolak Cinntaku yang dia balas juga melalui surat yang ia samapaikan sendiri kepadaku. Tetapi kenapa dia dating di saat aku sedang menikmati Indahnya jalan yang menjadi pilihanku. “Ya Robb… Jauhkan aku dari segala mihnamu saat ini ya Rab…”
Dan untuk lari dari kejaran dia maka aku saat itu berbohong kepada nya, Aku katakana bahwasanya Aku akan Menikah dengan Seorang Gadis yang telah di pilihkan seorang Ust untukku.
Lantas ia mengirim sms kepada ku, “Yudhis, sebenarnya aku sangat mencintai kamu, semua kenangan yang kita lalui telah kutulis dalam Buku Harianku, sungguh Indah masa itu…, dan Akau Menyesal kenapa aku dahulu Menolak Cintamu yang kau sampaikan dalam sepucuk Surat, tapi apa bila aku kemarin menerima Cintamu… Tentunya aku telah menjadi orang yang paling berbahagia ”
Dan aku katakan padanya Saudariku….. yang berlalu biarlah berlalu, aku berharap agar kamu bisa lebih dewasa n kamu sadari bahwa apa yang kita miliki tidak akan kekal.
Eh… dia malah membbalas sms “Kak, hidupku kini hancur….. Besok aku akan bercerai dari suamiku…, yang ada dalam hatiku hanyalah Kakak, mau kah kakak menemani ku untuk selamanya n menjadi Suamiku?... Oh iya kak, Aku telah memiliki 2 orang anak, anak ku yang pertama aku beri nama Yudhistira Nia Ramadhan dan yang ke dua aku beri nama Andi Nugraha” Sejenak aku mengerenyitkan keningku sambil bergumam “Itu kan namaku…, kenapa dia seperti itu…”
Y Robb, kenapa semua ini seperti ini? Aku tidak tahu kenapa, apakah ada yang salah dari diriku?
Lantas dia mengirim kembali sms nya… “Kak, kalau kakak akan menikah, Nia Do’akan, semoga Kakak Bahagia n aku akan turut bahagia pula, tapi apa bila Kakak Tidak Bahagia, maka Aku akan bersedih, karena aku tidak ingin Orang yang Aku Cintai tidak bahagia, dan aku akan siap menemani kakak kapan pun n di manapun kakak butuhkan dan ijinkan aku untuk tetap selalu mencintai kakak seorang, dalam hati ini hanya kakak yang aku Cintai n aku sayangi, bagiku Posisi Kakak tidak tergantikan, walaupun aku telah Menikah dan besok aku akan bercerai dari Suamiku.
Demikianlah sms yang dia kirim ketika itu… dan hari ini tepat 2 tahun dia mengirimkan sms yang terakhir…
Sebelum ia mengakhiri sms yang terakhir ia mengatakan suatu hal dalam sms nya “Kak, besok aku akan pergi ke Batam untuk mencoba melalui hidup ku yang baru setelah aku bercerai dari suamiku… Satu hal yang harus kakak ketahui seperti yang aku sampaikan bahwa aku tidak akan melupakan kakak, karena dalam hati ini hanya ada kakak seorang, sekali lagi maafkan aku bila telah menggangu kakak beberapa hari ini, dan izinkan aku untuk selalu mencintai kakak walaupun kini kakak telah berbahagia…
Aku tidak menyangka orang yang aku anggap teman selama ini ternyata menyimpan rasa cinta terhadap diriku….
Dari kisah di atas aku hanya berdo’a “Ya Robb, lindungi lah ia n masukkan ia dalam barisan Da’wah ini.
Dan kalau aku mengenang Kisah masa Jahiliyah itu aku teringat akan sebuah Nasyid yang di nyanyikan Oleh Grup Nasyid Suara Persaudaraan dan apa bila aku mendengar lagu itu, aku teringat ketika aku masih jahiliyah dulu…
Dan aku berharap Ini yang terakhir orang yang menjadi masa lalu ku menggoda dirku…
Karena aku ingin menikmati jalan yang telah menjadi pilihan ku…

Senin, 12 Januari 2009

Kenanganku Dengannya


Entah mengapa

Akhir2ini Aku selalu teringat dengan sesorang yang tidak asing lagi bagiku, beliau adalah Bu De yang selama ini telah kuanggap sebagai Ibuku sendiri, karena dengan beliau lah Aku di Asuh derta dididik yang menurut orang di sana semenjak Aku Lahir, karena setelah Ibu Melahirkan aku, Ibu dipanggil untuk Kuliah di ITB.

Msih teringat di benakku ketika Aku kecil di belai olehnya dengan kasih sayang, agar Aku menjadi orang yang penyabar, senantiasa Optimis, serta berjiwa Organisasi.

Kini, 11 tahun setelah kepergiannya.

Aku tidak menyangka begitu cepat ia berlalu dari hadapanku.

Ternyata kepergianku ke Tanah Jawa untuk Menuntut Ilmu merupakan waktu yang terakhir kalinya aku untuk bertemu dengannya.

Masih teringat dalam ingatanku ketika Aku akan berngkat, ia mengatakan bahsanya aku tidak akan bertemu dengannya lagi, karena peremuan ini adalah pertemuan yang terakjir antara aku dengannya, tetapi aku sadari, bahnwa sanya di balik semua peristiwa itu, ada sebuah pelajaran yang tidak aku ketahui yang di berikan oleh Allah. Dan Aku sadari, bahwa segala sesuatu datang nya dari Allah n akan kembali pula kepada Allah.

Satu yang Aku sesalkan adalah, hingga Akhir hayatnya Aku belum bisa membalas semua pengorbanan yang telah ia berikan kepada ku.

Jumat, 26 Desember 2008

Teruntuk Ibundaku...........

Waktu bergulir begitu Cepat berlalu, tanpa terasa kita telah berada di sebuah Momen yang setuap tahun kita rayakan.
Walau terlambat aku menulis sebuah tulisan ini untuk Ibunda ku, tetapi menurutku tidak.
Ibu........
Kuliha di Raut Wajahmu yang semakin Tua di makan Oleh Zaman, tetapi engkau tetap ttegar dalam menghadapi Kehidupan ini yang semakin hari semakin terjal.
Ibu.............
Masih ingat dalam ingatanku, keika Engkau megucapkan kata berupa Do'a yang engkau sampaikan terhadap diriku, ketika Aku akan memasuki bangku Perkuliahan.
Waktu itu engkau mengatakan Do'a "Ya Allah, berkahilah Aktifitas Anak Hamba dalam menjalankan Aktifitasnya, Lindungi lah Ia, Berikan Ia Kekuatan dalam menghadapi Rintangan mu"
Dan Waktu telah berlalu begitu Cepat.
Ibu..............
Kini Aku telah menyelesaikan Amanahmu di Bangku Perkuliahan.
Ternyata Do'a yang engkau sampaikan begitu membawa keberkahan bagi diriku.
Dan kini Aku telah menjelma menjadi Seorang yang engkau Cita2 kan dalam Do'amu.
Dan kini Aku hanya meminta darimu satu hal.
Izinkan Aku berjuang untuk Menegakkan Agama Allah, dan Aku mengharap kan Do'a Mu menyertai setiap langkahku.
Karena Ku sadari, tiada sesuatu yang paling berharga di Dunia ini selain Restumu dalam setiap langkahku.
Ibu................
Aku sadar, bahwa Aku belum dapat memenuhi keniginanmu untuk mencari Sesorang yang dapat memberikan Energi baru dalam Keluarga kita n Seorang Menantu yang engkau cita2 kan dari Buah Hati mu.
Sekali Lagi Aku meminta Restu mu dalam setiap Langkahku menjalani Kehidupan ini sebagai bekal dalam menjalani kehidupan ini.

Teruntuk Ibunda ku yang dalam setiap Detik Mengalir Do'a yang di persembahkannya untuk Diriku. "Ibu........., Izinkan Aku untuk Meniti Jalan Menuju Allah"

Minggu, 21 Desember 2008

Ada Hikmah Dibalik Musibah

Musibah dan anugerah adalah dua hal yang tidak luput dari kehidupan manusia. Agama telah mengajarkan bagaimana menyikapi kedua hal tersebut. Saat mendapat musibah kita harus bersabar, dan itu baik bagi kita karena dengan kesabaran, kita berharap Allah mengampuni dosa-dosa kita. Jika mendapat anugerah kita harus menyikapinya dengan bersyukur, dan itu juga baik bagi kita. Dengan bersyukur akan menambah tabungan untuk bekal kehidupan kelak diakherat. Barang siapa bersyukur, Insya Allah, Allah akan menambah nikmat kepada orang tersebut dan barang siapa kufur, sesungguhnya azab Allah sangat pedih.
Sebagian orang lebih mudah untuk bersyukur tatkala menerima anugerah dan kenikmatan dibandingkan bersabar saat sedang diuji dengan musibah. Banyak orang menjadi putus asa dengan ujian berupa musibah dan memandang musibah adalah sesuatu yang harus dihindari. Dengan doa, Insya Allah akan menolak musibah yang akan terjadi, namun jika musibah sedang menimpa atau telah menimpa diri kita, kita harus berusaha menyikapi dengan sabar dan mengambil hikmah dibalik musibah tersebut.
Musibah sering dipandang sebagai sesuatu yang tidak mengenakkan, sesuatu yang menyedihkan dan lain sebagainya. Namun jika kita renungkan sedikit ternyata banyak hal yang pada mulanya kita anggap sebagai musibah pada akhirnya menjadi sebuah berkah bagi yang mengalaminya. Hikmah di balik musibah tersebut ada yang kita sadari, namun banyak juga yang kita lewatkan begitu saja. Ibarat murid disekolah, mereka akan naik kelas setelah lulus ujian, demikian pula Allah akan menguji hamba-Nya yang beriman dan akan mengangkat derajat dengan balasan di dunia dan di akherat.
Musibah letusan gunung Merapi yang terjadi beberapa waktu lalu, telah meluluh lantakkan hampir seluruh tanaman disekitarnya, semburan awan panas telah menghanguskan sayur mayur di lereng-lerang gunung merapi. Namun beberapa bulan berikutnya, tanaman dan sayuran sangat subur hijau royo-royo yang membuat terkesima mata memandang dan menyejukan hati bagi para petani. Dan masih banyak contoh-contoh lain yang dapat kita petik hikmahnya dari sebuah musibah ataupun bencana.
Musibah tidak hanya berupa bencana alam, kesulitan ekonomi, kekurangan bahan makanan, hilangnya gas dari peredaran, kesulitan memperoleh lapangan pekerjaan seringkali menyimpan misteri hikmah didalamnya. Dan bersama kesulitan terdapat kemudahan.
Secara ekonomi kami dibesarkan dari keluarga yang boleh dibilang kurang mampu, hal ini bukan berarti kami tidak menyukuri nikmat yang telah Allah anugerahkan. Untuk keperluan sehari-hari memang waktu kecil adalah masa-masa yang berat. Belum pernah rasanya pergi ke sekolah waktu SD memakai sepatu dan memakai tas. Berangkat sekolah dengan kaki telanjang dan dengan tas kresek adalah hal yang lumrah. Saat berangkat sekolah pun tidak jarang harus menunggu pakaian dicuci dulu, karena hanya satu-satunya dan berangkat dengan pakaian setengah basah.
Walaupun kondisinya sangat berat, semangat belajar keluarga kami sangat besar. Saat sekolah lanjutan berjalan kaki 6 km dalam sehari, tidaklah begitu dirasakan. Sepulang sekolah menjelang Asyar kepingin rasanya cepat-cepat sampai dirumah dan menikmati hidangan makan siang. Kadang-kadang Sampai dirumah ternyata belum tersedia makanan, karena ayah ibu juga baru pulang dari ladang. Maka kami harus membantu memasak terlebih dahulu, itupun tidak semudah memasak beras, karena waktu itu sehari-hari dengan nasi jagung, sehingga sebelum dimasak harus di tumbuk dulu supaya menjadi tepung. Sambil menanak nasi, sebagian kami mencari sayur atau umbi-umbian untuk dijadikan lauk.
Setelah istirahat sejenak, sehabis asyar kami mulai berangkat ke ladang membantu ayah, berangkat membawa pupuk kandang yang sangat berat, dan pulangnya membawa kayu bakar atau rumput buat pakan ternak. Sambil perjalanan pulang pergi ke ladang yang lumayan jauh, biasanya saya manfaatkan untuk sambil membaca pelajaran yang telah diringkas menjadi potongan kertas kecil. Tangan kiri memegang keranjang dan sabit, tangan kanan memegang catatan pelajaran.
Untuk membayar biaya sekolahpun adalah hal yang tidak mudah waktu itu, tidak jarang kami menunggak SPP hingga beberapa bulan. Jika pembayaran sudah jatuh tempo namun belum mempunyai uang, maka pagi-pagi sehabis subuh kami bersama ibu mencabut singkong ke kebun dan dibawa ke pasar. Harga singkong juga sangat murah waktu itu, sehingga supaya cukup untuk biaya SPP kami harus mengangkut beban yang sangat berat, bahkan pernah bawaan kakak sampai roboh. Saya juga tidak jarang membawa beban berat (nyunggi) hingga sampai sekarang masih ada bekas cekungan karena tekanan sekarung singkong yang saya bawa. Selain itu kami juga rajin menguliti batang pisang lalu dijemur, setelah kering dijual untuk bahan membuat keranjang tembakau (tombong). Hasil penjualan batang pisang (debog) tersebut kadang untuk keperluan dapur, kadang untuk membayar biaya sekolah.
Uang saku ke sekolah adalah sesuatu yang langka, jika teman-teman yang lain ke kantin saat istirahat, saya lebih memilih berdiam diri di kelas atau membawa bekal singkong yang saya masukkan dalam tas plastik, dan saya makan dikebun dekat sekolah, karena malu jika dilihat teman-teman. Waktu SMEA bekal yang dibawa juga masih setia, singkong dan singkong, ya sesekali bisa ke kantin jika ada uang lebih, apakah sedih hanya mbekel singkong, enggak juga tuh, biasa aja.
Bahkan saat SMEA, saya pernah sampai tidak berangkat sekolah saat ujian nasional, karena sampai batas waktu yang ditentukan belum sanggup melunasi SPP. Saya malah berangkat ke ladang membantu ibu memetik hasil tani. Saya tidak bilang sama Ibu bahwa saya tidak berangkat karena belum bayar SPP, karena saya khawatir beliau sedih jika mengetehuinya. Namun baru sekitar setengah jam saya diladang, ada utusan pak guru yang menjemput saya dan memperbolehkan saya mengikuti ujian walaupun belum lunas. Akhirnya saya langsung berangkat ke sekolah yang berjarak 20an km dengan membonceng utusan tersebut, dan walaupun tinggal sisa waktu setengah, Alhamdulillah saya lulus saat pengumuman bahkan mendapat point A pada mata ujian tersebut (Terima kasih pa Mulyono dan mas Supadi).
Menginjak kelas 3 SMEA saya membantu memasarkan dagangan koperasi sekolah, dengan pembayaran setelah laku. Saya dapat membantu sedikit-sedikit kebutuhan di rumah dari laba hasil penjualan tersebut dan sisanya saya tabung. Setelah lulus SMEA dengan berbekal tabungan sebesar 25 ribu saya merantau ke Jakarta untuk memperbaiki ekonomi keluarga. Banyak lamaran yang telah dimasukkan namun tidak ada yang dipanggil, pernah dipanggil sebagai Cleaning Service dan sempat saya jalani beberapa bulan. Namun penghasilan yang diterima jauh dari cukup. Pada saat yang bersamaan saya mencoba mendaftar sekolah kedinasan dan Alhamdulillah diterima dan kuliah Gratis. Untuk biaya sehari-hari saya sambil jualan kacang telur yang saya titipkan ke warung-warung saat berangkat kuliah dan sorenya saya menagih hasil penjualan.
Dari tempaan kondisi yang sulit tersebut justeru memacu saya semangat berdagang/berwirausaha. Setelah selesai kuliah usaha dagang tetap saya teruskan. Dengan aneka dagangan yang lebih banyak, membuat kripik, membuka warung indomi, cheese stick, dan lain-lain. Bahkan sempat penghasilan yang saya peroleh dari berdagang hampir sepuluh kali lipat dibanding dengan gaji, dengan dibantu sekitar 10 orang tenaga kerja dan menyuplai lebih dari 400 toko serta beberapa supermarket.
Hingga saat ini, justeru berdagang menjadi hobi tersendiri yang sangat membantu ekonomi keluarga. Hal ini mungkin tidak akan pernah terjadi jika saya dibesarkan dari keluarga yang berkecukupan. Namun karena kondisi sulit tersebut memaksa kami untuk menciptakan peluang-peluang penghasilan. Dengan dipadukan dengan teknologi internet berdagang menjadi lebih mudah dan lebih menyenangkan. Alhamdulillah sudah banyak kemajuan yang saya peroleh melalui usaha dagang tersebut. Membantu keuangan keluarga di kampung, tempat tinggal dan kendaraan roda 2 dan 4 walau sederhana sedikit banyak saya peroleh dari wirausaha tersebut, walaupun materi bukanlah satu-satunya ukuran kesuksesan seseorang.
Musibah dan anugerah, sukses dan gagal, jika diibaratkan dalam perjalanan di kereta api, bisa saja seperti pemandangan kiri kanan rel, sawah hijau membentang, gunung-gunung tinggi menjulang, air mengalir, pohon-pohon, dan kadang pula menemui bebatuan terjal, sambungan rel yang renggang, yang sedikit mengurangi kenyamanan, namun kita tidak terlena dengan keadaan di sekitar perjalanan, itu bukanlah tujuan, tetapi hanya pemandangan sekejap, tujuannya adalah suatu tempat stasiun/kota yang masih jauh di seberang sana.
Demikian pula, musibah dan anugerah, gagal dan berhasil dalam kehidupan adalah sebagai bumbu pemanis dalam mengarungi bahtera kehidupan, tujuan akhir kita adalah kembali kepada Allah atau Tuhan kita dalam keadaan yang diridhai, dan kebahagian yang tiada akhir.
Wallahu a'lam ബിശോവാബ്.

Sabtu, 20 Desember 2008


Siapakah Kekasih Allah Itu?


Tidaklah Allah menarik seorang kekasih ke Haribaan-Nya, kecuali karena kedermawannya (Al Hadis). Wali Allah artinya kekasih Allah. Ia orang yang sangat dekat dengan-Nya. Begitu dekatnya, sehingga ia menyerap di antara sifat rahman dan rahim-Nya sampai ke tingkat yang setinggi-tingginya. Di antara ciri-cirinya, ia suka berinfak dan gemar menderma. Abu Al Abbas Al Zuzani meriwayatkan, " Telah sampai kepadaku kisah tentang Ibrahim. Allah bertanya kepadanya : Tahukah kamu kenapa aku mengambil kamu sebagai kekasih-Ku ( khalili ). Ibrahim menjawab : Tidak ya Rabbi. Tuhan berfirman : Aku menengok hati nuranimu. Aku temukan di sana ternyata kamu lebih senang memberi dari pada mengambil." Begitu mulianya orang yang dermawan, sehingga walaupun ia berdoa besar, ia tetap disukai Tuhan. Ketika Nabi Musa AS pergi ke bukit Sinai, ia menitipkan kaum Bani Israil kepada Nabi Harun. Tapi sepeninggalan Musa, orang-orang Bani Israil kembali Musyirik atas bujukan Samiri, lantaran terpesona dengan patungnya yang ajaib, yang bisa berbicara. Akhirnya mereka menyembah patung itu. Sekembalinya Nabi Musa AS, Samiri dipanggil dan harus dihukum mati. Ketika saat eksekusi akan dilakukan, malaikat Jibril turun menyampaikan firman Allah SWT, " Lepaskan dia dari hukuman mati karena walaupun ia memurtadkan banyak orang tetapi dia orang yang dermawan." Samiri bahkan dikaruniai usia yang panjang. Seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah SAW," Amal apa yang paling utama ? " Nabi SAW menjawab, "Seutama-utama amal ialah memasukkan rasa bahagia pada hati orang yang beriman, yaitu melepaskannya dari rasa lapar, membebaskannya dari kesulitan, dan membayarkan utang-utangnya " ( HR Ibnu Hajar ). Kemudian Nabi mulia itu bersabda, " Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaknya membaguskan jamuan tamunya." Aisyah RA pun berkata, " Tidak henti-hentinya malaikat mendoakan kalian sepanjang makanan untuk tamu dihidangkan." Menantu Rasulullah SAW, Ali pernah suatu hari beliau menangis. Ketika ditanya, Ali menjawab, " Sudah satu minggu tidak datang tamu kepadaku dan aku takut akan menghinakan aku." Mengapa orang lebih cepat dekat dengan Allah melalui kedermawanan daripada zikir dan doa ? Perjalanan menuju Allah adalah upaya untuk hijrah dari kungkungan dirinya menuju rumah Tuhan, dari perhatian kepada kepentingan pribadi menuju perhatian sepenuhnya kepada Allah. Jadi orang yang dermawanan adalah orang yang tidak meletakkan kebahagiaannya pada pemilikan harta. Ia bahagia bukan karena bisa mengambil banyak. Ia bahagia karena bisa memberi banyak. Ali Zainal Abidin terkenal senang memikul gandum di malam hari di kota Madinah, ia membagikannya kepada fakir miskin. Semuanya tanpa diketahui orang. Bila ada orang datang ke rumahnya minta tolong, ia berucap, " Selamat datang wahai orang yang berkenan memikul bekalku untuk hari akhirat." Abdullah bin Umar meriwayatkan hadis Rasulullah SAW yang berbunyi, " Sesungguhnya Allah menolakkan bencana-bencana karena kehadiran muslim yang saleh dari seratus keluarga tetangganya. Kemudian ia membaca firman Allah, " Sekiranya Allah tidak menolakkan sebagian manusia dengan sebagian yang lainnya, niscaya sudah hancurlah bumi ini " (qs.2:251). Lalu siapa orang yang saleh itu ? Kata Rasulullah SAW, " Mereka tidak mencapai kedudukan yang mulia itu karena banyak salat atau banyak puasa." " lantas karena apa ? "tanya di antara sahabat, dengan agak heran. Beliau bersabda, "Dengan kedermawanan dan kecintaan yang tulus kepada kaum muslimin." Dalam hadis lain Nabi SAW berkata, " Orang dermawan dekat dengan surga dan jauh dari neraka." Si dermawan hatinya selalu tenang dan akan selalu menemukan kenikmatan di dalam segala situasi. Lebih-lebih dalam beribadah, terutama ketika salat. Sebabnya karena ia akan terus dijaga oleh para malaikat, diberi cahaya alam kegelapan dan diberi ilmu secara langsung oleh Allah SWT. Oleh karena itu ketika kita membantu orang-orang miskin, janganlah berpikir bahwa kita membantu. Pada hakikatnya kitalah yang dibantu oleh mereka. Antara lain kita dibawa lebih dekat kepada Allah SWT. Rasulullah SAW sangat menyenangi tempat-tempat yang di situ kita menyantuni fakir miskin. Kepada Aisyah, beliau berpesan, " Wahai Aisyah, dekatilah orang-orang miskin. Cintai mereka, nanti Allah kan dekat dengan kamu." Dalam satu hadis Qudsi, Allah SWT berfirman, " Carilah karunia Allah dengan mendekati orang yang dekat dengan orang miskin. Karena pada merekalah Aku jadikan keridhaan-Ku." Aisyah RA meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, " Surga adalah kampung orang dermawan." Dari beberapa data di atas, jelas bagi kita bahwa yang mempercepat orang mencapai derajat yang tinggi di sisi Allah SWT bukanlah frekuensi salat sunat dan puasa sunat. Semua ibadah itu hanyalah ungkapan rasa syukur kita kepada Allah yang seringkali jauh lebih sedikit dari anugerah Allah kepada kita. Yang sangat cepat mendekatkan diri kepada Allah, ialah al sakha, kedermawanan dan kesetiaan yang tulus kepada kaum muslim. Yang paling hebat lagi, kalau bergabung semuanya. Ibadah ritual dan ibadah sosial. Rasulullah SAW bersabda, " Barang siapa di waktu pagi berniat untuk membela orang yang teraniaya dan memenuhi kebutuhan seorang muslim, baginya ganjaran seperti ganjaran haji mabrur."

Sabtu, 04 Oktober 2008

Met Idul Fitri 1429 H

Kata di Untai menjadi Pantun

Pantun di Baca di Hadapan Raja

Salam dari Kami di Negeri Penyamun.

Ramadhan Usai mari berhari Raya.


Pantun di Baca di Hadapan Raja

Raja bertitah Paduka nan Agung.

Bersuka Cita di Hari Raya

Diri tak Sua Ukhuwah Terhubung.


Raja Bertitah Paduka Nan Agung.

Berkain Songket Berbaju Kurung

Jalin Ukhuwah Silaturrahim di Sambung.

Tinggkan Marwah Agama yang Agung.


Berkain Songket Berbaju Kurung.

Duduk Bersimpuh di Singga sana.

Jaga Titah Amanah Nan Agung.

Tinggikan Islam Berjuang Bersama.


Taqabalallahu mina waminkum Mina "aidin Wal FaidzinYudhistira Andi Nugraha, S.Pd.I

Penantian itu membuatku merasa jenuh untuk menantikannya.

Hari-hari telah kulewati dengan kesendirian yang terkadang membuatku merasa jenuh dan bosan.
Dan tanpa terasa Umurku sudah hampir beranjak 28 tahun, namun Aku belum dapat memberikan yang terbaik untuk kedua Oarang tuaku, n untuk masa depanku.
Duhai Sahabat ku,
Aku ucapkan kepada mu Barakallahulaka Wabaraka ‘alaika wa jama’a bainakuma fil khoir…
Semoga dengan Pernikahan yang engkau jalani dapat menjadi Spirit Da'wah bagimu.
Itulah sebuah kata yang Aku ucapkan teruntuk Sahabat ku yang kucintai Karena 4W1, karena bersamanya ketika Aktif di KAMMI Aku merasakan bersamanya kenikmatan dalam berjuang dalam Jalan Da'wah itu.
Wahai Shabatku?
Doakan lah Sahabat mu ini untuk segera menyusul dirimu............
Memang Aku saat ini sudah merasa lelah dalam Pencarian ku ini
Ya Rabb....
Permudahkanlah bagi ku untuk menyempurnakan Dien Mu, n jangan biarkan Aku untuk berada dalam Mihnah mu yng sesungguhnya Aku tidak Sanggup untuk memikulnya.
Entah sapai kapan Aku harus dalam masa seperti ini, mungkin Esok, atau minggu depan, atau bulan depan bahkan Tahun depan, yang pasti Aku belum dapat memastikan.
Semoga Jawaban yang Aku inginkan itu akan datang kepadaku.
Wassalam
By, Mujahid yang dalam penantian yang tidak pasti.